Jangan Telan Berita Mentah-Mentah: Kenali Cara Media Massa Membingkai Cerita
Jangan Telan Berita Mentah-Mentah: Kenali Cara Media Massa Membingkai Cerita
Fakta yang sama bisa terasa sangat berbeda tergantung siapa yang menceritakannya dan bagaimana cara mereka menceritakannya.
Dua orang membaca berita yang sama tentang kenaikan harga beras. Satu orang keluar dengan rasa marah pada pemerintah. Orang satunya keluar dengan kepercayaan bahwa situasi sedang ditangani. Fakta yang sama, kesimpulan yang bertolak belakang. Bukan karena salah satu dari mereka bodoh tapi karena media yang mereka baca membingkai fakta itu dengan cara yang sangat berbeda.
Inilah yang disebut framing. Dan ia ada di setiap berita yang Anda baca, setiap program yang Anda tonton, setiap artikel yang Anda scroll setiap pagi. Memahaminya bukan berarti Anda harus tidak mempercayai siapapun melainkan Anda tahu cara membaca berita dengan lebih cerdas.
Apa Itu Framing? Bukan Bohong, Tapi Bukan Juga Keseluruhan Kebenaran
Framing bukan hoaks. Berita yang menggunakan framing bisa saja 100% faktual secara teknis. Tidak ada satu pun angka yang salah, tidak ada kutipan yang dipalsukan. Tapi framing bekerja dengan cara yang lebih halus: memilih fakta mana yang ditonjolkan, memilih kata apa yang dipakai, memilih siapa yang dikutip, dan memilih konteks apa yang disertakan atau sengaja ditinggalkan.
Profesor komunikasi Robert Entman, salah satu peneliti paling berpengaruh dalam studi media, mendefinisikan framing sebagai proses memilih aspek-aspek tertentu dari realitas yang dipersepsikan dan membuatnya lebih menonjol dalam teks komunikasi, sehingga mendorong definisi masalah, interpretasi penyebab, evaluasi moral, dan saran penanganan yang sudah diarahkan sebelumnya.
Terjemahan sederhananya: framing adalah cara bercerita yang sudah memilih dari awal ingin membawa pembaca ke mana.
Perhatikan: tidak ada satu pun kebohongan di dua judul berita itu. Keduanya akurat secara faktual. Tapi siapa "protagonis" dan siapa "antagonis" dalam cerita itu sudah ditentukan jauh sebelum Anda membaca paragraf pertama.
"Media tidak hanya memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan, media juga memberi tahu kita bagaimana cara memikirkannya." — Maxwell McCombs & Donald Shaw, peneliti agenda-setting media (1972)
Ilustrasi: Enam elemen yang dikendalikan editor dan jurnalis dalam memproduksi berita — setiap pilihan adalah keputusan framing.
Framing Ada di Mana-Mana: Dari Berita Politik Sampai Kesehatan
Kesalahan umum yang sering kita buat adalah berpikir bahwa framing hanya ada di berita politik. Padahal ia hadir di hampir setiap topik yang diangkat media dan kadang efeknya paling terasa justru di luar politik, ketika kewaspadaan kita sedang turun.
Framing Politik: Siapa Pahlawan, Siapa Penjahat
Ini yang paling mudah dikenali. Ketika seorang pejabat meresmikan jembatan baru, media yang mendukungnya akan menulis tentang "terobosan pembangunan infrastruktur yang memperpendek jarak tempuh warga." Media yang kritis mungkin menulis tentang "proyek senilai triliunan rupiah yang menghabiskan anggaran daerah dan sudah molor dua tahun dari target."
Keduanya bisa benar. Tapi pembaca media pertama akan pulang dengan kesan satu hal; pembaca media kedua akan pulang dengan kesan yang sama sekali berbeda tentang pejabat yang sama.
Yang lebih berbahaya: kita cenderung memilih media yang framingnya sesuai dengan keyakinan kita yang sudah ada. Ini menciptakan lingkaran setan kita semakin yakin perspektif kita benar, karena media yang kita pilih selalu mengkonfirmasinya.
Framing Ekonomi: Angka yang Sama, Cerita yang Berbeda
Ekonomi adalah arena framing yang sangat subur karena datanya kompleks dan pembaca awam jarang punya waktu untuk menggali lebih dalam. Angka-angka ekonomi hampir selalu bisa dibingkai lebih dari satu cara.
Pertumbuhan ekonomi 5% apakah itu kabar baik atau buruk? Bergantung pada framingnya: dibandingkan target pemerintah, dibandingkan negara tetangga, dibandingkan tahun lalu, atau dibandingkan angka sebelum pandemi. Angka yang sama bisa jadi "pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun" sekaligus "masih jauh di bawah potensi maksimal."
Framing ekonomi juga sering bekerja melalui siapa yang diwawancarai. Ekonom dari lembaga yang dibiayai korporasi besar cenderung punya sudut pandang berbeda dari ekonom dari lembaga nirlaba atau akademisi yang tidak memiliki konflik kepentingan. Media yang hanya mengutip satu jenis sumber menghasilkan framing ekonomi yang terbatas.
Framing Kesehatan: Ketika Berita Medis Jadi Menakutkan (atau Menyepelekan)
Berita kesehatan mungkin adalah tempat di mana framing punya dampak paling langsung pada kehidupan sehari-hari orang biasa. Orang membuat keputusan nyata apakah mau vaksin, mau ikut diet tertentu, mau konsumsi suplemen ini berdasarkan cara media membingkai informasi medis.
Kedua judul berita di atas bisa merujuk pada studi yang sama. Sebuah penelitian yang menemukan "3 cangkir sehari aman, lebih dari 6 cangkir meningkatkan risiko" dengan mudah dipotong dua cara berbeda oleh dua media yang berbeda.
Framing Isu Sosial: Siapa yang "Normal", Siapa yang "Masalah"
Framing pada isu-isu sosial kemiskinan, kriminalitas, migrasi, pendidikan seringkali bekerja dengan menentukan siapa yang dianggap "akar masalah" dan siapa yang dianggap "korban." Ini bukan sekadar soal sudut pandang framing pada isu sosial secara langsung mempengaruhi kebijakan publik dan opini masyarakat terhadap kelompok-kelompok tertentu.
Ketika berita kriminalitas selalu menyebut latar belakang etnis atau daerah asal pelaku, tapi tidak melakukan hal yang sama untuk semua pelaku dari kelompok berbeda, itu adalah framing yang memperkuat stereotip tertentu. Ketika berita kemiskinan hanya menampilkan individu "malas" tanpa konteks struktural, itu juga framing yang mengalihkan perhatian dari pertanyaan tentang sistem.
Mengapa Media Melakukan Framing? Bukan Selalu Niat Jahat
Penting untuk tidak berpikir bahwa semua framing adalah hasil konspirasi jahat. Kenyataannya jauh lebih kompleks dan justru karena kompleksitas itulah framing sangat sulit dihilangkan sepenuhnya.
Tekanan Komersial: Klik adalah Raja
Media massa modern, terutama media online, hidup dari iklan yang berbasis jumlah kunjungan. Semakin banyak klik, semakin banyak pendapatan. Dan sudah terbukti secara riset berulang kali: judul yang membangkitkan emosi kuat terutama rasa marah, takut, atau kagum menghasilkan klik jauh lebih banyak daripada judul yang datar dan netral.
Ini bukan berarti jurnalisnya buruk mereka bekerja dalam sistem yang menghargai klik. Tekanan dari editor untuk menghasilkan konten yang viral secara tidak langsung adalah tekanan untuk menggunakan framing yang lebih emosional dan lebih memihak.
Kepemilikan Media dan Kepentingan Bisnis
Di Indonesia, sebagaimana di banyak negara, sebagian besar media massa dimiliki oleh segelintir konglomerat yang juga memiliki bisnis-bisnis lain dan sering kali keterlibatan langsung dalam politik. Sulit untuk mengharapkan liputan yang sepenuhnya netral tentang kebijakan yang berkaitan langsung dengan kepentingan pemilik media.
Ini tidak selalu berarti ada instruksi eksplisit dari pemilik kepada redaksi untuk menulis sesuatu. Seringkali lebih halus: jurnalis yang bertahan lama di suatu media belajar sendiri topik apa yang "aman" dan bagaimana framing yang "diharapkan" tanpa perlu diberi tahu secara langsung.
Bias yang Tidak Disadari: Semua Manusia Punya Bingkai
Bahkan jurnalis paling berdedikasi sekalipun tidak bisa sepenuhnya bebas dari bingkai pribadinya. Latar belakang pendidikan, kelas sosial, pengalaman hidup, dan keyakinan nilai yang dipegang akan mempengaruhi bagaimana seseorang memilih angle berita, siapa yang dihubungi untuk wawancara, dan kata apa yang dipilih untuk menggambarkan situasi.
Ini adalah masalah struktural, bukan moral. Solusinya bukan menghukum jurnalis karena punya pandangan solusinya adalah membangun kebiasaan verifikasi dan keragaman perspektif, baik di dalam ruang redaksi maupun di benak pembaca.
Penelitian dari Reuters Institute menemukan bahwa kepercayaan publik terhadap media di sebagian besar negara terus menurun selama dekade terakhir. Namun solusinya bukan berhenti membaca berita melainkan membaca lebih banyak sumber dengan mata yang lebih kritis.
Lima pertanyaan wajib sebelum mempercayai dan menyebarkan berita — berlaku untuk semua topik, dari politik hingga kesehatan. (Pertanyaan 5: Bagaimana media lain meliputnya? Bandingkan minimal 2–3 sumber berbeda.)
Cara Jadi Pembaca yang Lebih Cerdas: Tanpa Harus Jadi Skeptis Total
Mengetahui tentang framing bukan berarti Anda harus tidak mempercayai semua berita dan membuang media dari hidup Anda. Justru sebaliknya: pemahaman ini seharusnya membuat Anda menjadi konsumen informasi yang lebih aktif, lebih selektif, dan lebih konstruktif.
1. Baca Dari Lebih Dari Satu Sumber
Ini adalah saran paling sederhana namun paling efektif. Untuk isu yang penting bagi Anda, biasakan membaca dari minimal dua media dengan orientasi yang berbeda. Bukan untuk mencari kebenaran mutlak di salah satu dari mereka, tapi untuk melihat di mana mereka berbeda dan bertanya mengapa.
Perbedaan dalam liputan dua media yang meliput kejadian yang sama seringkali lebih informatif daripada isi berita itu sendiri. Fakta apa yang muncul di satu media tapi tidak ada di yang lain? Narasumber siapa yang dikutip satu tapi tidak oleh yang lain?
2. Pisahkan Berita dari Opini
Di banyak portal berita online, batas antara berita faktual dan tulisan opini atau analisis semakin kabur. Perhatikan label artikel apakah ini "berita", "analisis", "opini", "editorial", atau "kolom tamu." Keempatnya punya standar dan tujuan yang berbeda.
Opini dan analisis sah-sah saja dan bisa sangat berharga tapi mereka bukan "berita." Mencampurkan keduanya dalam kepala Anda adalah jalan mudah untuk terperangkap dalam framing tanpa sadar.
3. Cek Sumber Primer Ketika Memungkinkan
Ketika sebuah berita mengutip penelitian, laporan resmi, atau data statistik, coba cari sumber aslinya. Laporan pemerintah, studi akademik, dan data statistik resmi biasanya tersedia secara publik. Anda akan sering kali terkejut betapa berbedanya temuan asli dengan cara media merangkumnya.
Ini tidak perlu dilakukan untuk setiap berita itu tidak realistis. Tapi untuk topik yang benar-benar penting dan akan memengaruhi keputusan atau opini Anda, usaha untuk mengecek sumber primer sangat sepadan.
4. Kenali Manipulasi Emosional
Jika sebuah konten membuat Anda merasa sangat marah, sangat takut, atau sangat kagum cukup untuk langsung ingin membagikannya itu adalah momen yang tepat untuk berhenti sejenak. Emosi yang kuat adalah sinyal bahwa framing sedang bekerja secara efektif. Bukan berarti beritanya salah, tapi Anda perlu memverifikasi sebelum bereaksi.
Pertanyaan yang bagus untuk diajukan: "Siapa yang diuntungkan jika saya marah karena ini?" dan "Apakah saya akan bereaksi sama jika berita ini ditulis dengan cara berbeda?"
5. Bedakan Fakta dan Interpretasi
Dalam satu artikel berita, ada dua jenis kalimat: yang melaporkan fakta ("Presiden menandatangani undang-undang X pada Selasa lalu") dan yang menginterpretasikan fakta ("Keputusan ini dipandang sebagai langkah mundur bagi kebebasan pers"). Kalimat kedua bisa benar, bisa juga tidak bergantung pada siapa yang Anda tanya.
Biasakan untuk secara mental memisahkan keduanya saat membaca. Fakta-fakta apa yang benar-benar dilaporkan? Dan interpretasi siapa yang sedang Anda baca?
- Cek siapa pemilik media sebelum mempercayai framingnya
- Baca minimal 2 sumber berbeda untuk berita penting
- Perhatikan siapa yang dikutip dan siapa yang tidak
- Curigai berita yang membuat Anda sangat marah atau sangat takut
- Pisahkan kalimat fakta dan kalimat interpretasi
- Cari sumber primer ketika ada klaim data atau penelitian
- Tanya: "Konteks apa yang mungkin tidak disebutkan di sini?"
Tanggung Jawab Kita Sebagai Konsumen dan Penyebar Informasi
Ada satu hal yang sering luput dari diskusi soal framing media: kita bukan hanya korban pasif. Di era media sosial, kita semua juga berperan sebagai penyebar konten. Dan ketika kita membagikan sebuah berita tanpa berpikir kritis tentang framingnya, kita ikut berpartisipasi dalam menyebarkan bingkai itu kepada jaringan kita.
Setiap kali Anda menekan tombol share, Anda sedang meminjamkan kredibilitas Anda kepada framing yang ada di konten tersebut. Orang-orang dalam jaringan Anda keluarga, teman, rekan kerja menerima konten itu dengan lapisan kepercayaan tambahan karena datang dari seseorang yang mereka kenal.
Ini bukan berarti Anda tidak boleh berbagi konten sama sekali. Ini berarti berbagi dengan lebih bertanggung jawab: baca dulu sampai selesai, bukan hanya judulnya; pertimbangkan apakah framing-nya adil; dan ketika Anda berbagi sesuatu yang sudut pandangnya jelas, tambahkan catatan bahwa ini adalah perspektif tertentu, bukan gambaran lengkap.
"Dalam demokrasi, warga negara yang terinformasi dengan baik bukan kemewahan itu prasyarat. Dan tidak ada yang bisa menginformasikan Anda dengan baik kecuali Anda sendiri mau belajar cara membaca." — Walter Lippmann, Public Opinion (1922)
Mendorong Media yang Lebih Baik Melalui Konsumsi yang Lebih Cerdas
Ada ironi besar di sini: media yang menggunakan framing sensasional melakukannya karena berhasil. Konten provokatif mendapat lebih banyak klik. Selama kita sebagai pembaca terus mengklik konten yang paling emosional dan paling memihak, kita secara tidak langsung mensubsidi model bisnis yang menghasilkan konten seperti itu.
Sebaliknya, ketika kita secara aktif mendukung berlangganan, berbagi, memberikan umpan balik positif media yang melakukan jurnalisme yang lebih teliti, lebih berimbang, dan lebih jujur tentang keterbatasannya, kita turut menciptakan insentif finansial bagi media untuk bergerak ke arah yang lebih baik.
Ini bukan idealisme murni. Ini soal ekosistem informasi: ekosistem yang kita bantu ciptakan dengan pilihan konsumsi kita setiap hari.
Penutup: Membaca Bukan Sekadar Menerima
Framing media massa bukan teori konspirasi, bukan alasan untuk tidak percaya siapapun, dan bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan tidak membaca berita sama sekali. Ia adalah kenyataan dari bagaimana cerita bekerja dan bagaimana kepentingan, tekanan ekonomi, serta bias manusiawi mewarnai setiap proses penceritaan.
Yang bisa kita lakukan dan harus kita lakukan, sebagai warga yang ingin membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang baik adalah mengembangkan kebiasaan membaca yang lebih aktif. Bukan skeptis yang paranoid, tapi kritis yang konstruktif.
Tanyakan dari mana berita itu berasal. Perhatikan apa yang tidak diceritakan. Bandingkan dari sumber berbeda. Jangan biarkan emosi pertama yang muncul menjadi satu-satunya respon Anda. Dan sebelum berbagi, tanyakan: apakah saya ingin ikut menyebarkan bingkai ini?
Berita bukan cermin realitas. Ia adalah jendela dan setiap jendela punya bingkai. Tugas kita sebagai pembaca bukan sekadar melihat melalui jendela, tapi juga menyadari bahwa kita sedang melihat melalui sebuah bingkai dan memilih, dengan sadar, bagaimana meresponsnya.
Sumber & Referensi
- Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58.
- McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187.
- Lippmann, W. (1922). Public Opinion. Harcourt, Brace and Company.
- Tuchman, G. (1978). Making News: A Study in the Construction of Reality. Free Press.
- Scheufele, D. A., & Tewksbury, D. (2007). Framing, agenda setting, and priming: The evolution of three media effects models. Journal of Communication, 57(1), 9–20.
- Reuters Institute for the Study of Journalism. (2024). Digital News Report 2024. University of Oxford. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk
- Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146–1151.
- Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
- Herman, E. S., & Chomsky, N. (1988). Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. Pantheon Books.
- Kovach, B., & Rosenstiel, T. (2014). The Elements of Journalism (3rd ed.). Three Rivers Press.
- Priyambodo, R. H. (2019). Independensi Pers di Indonesia: Antara Kepentingan Modal dan Kepentingan Publik. Jurnal Komunikasi Indonesia, 7(1).
- Remotivi. (2023). Peta Kepemilikan Media Indonesia. remotivi.or.id

Posting Komentar untuk "Jangan Telan Berita Mentah-Mentah: Kenali Cara Media Massa Membingkai Cerita"